Minggu, 28 Agustus 2016

SENANDUNG KERINDUAN


Senandung Kerinduan

Ku terdiam dalam lamunku, asyik tenggelam dalam ribuan kenangan kehidupan, mengikuti alunan memori yang terus berputar, memasuki segala lorong-lorong masa yang telah lalu namun menyisakan bekas dihatiku. Hingga akhirnya alunan itu pun berhenti tepat di kisah hidupku bersamanya, adekku tersayang.
Ia lahir 6 tahun setelah ku, ketika kondisi keluargaku  masih jauh dari kata cukup ,tapi masih sangat lumayan dari pada masaku yang sangat jauh dari kata cukup bahkan ada. Karena faktor ekonomi ini ayah memutuskan untuk pindah ke desa sebelah berdekatan dengan nenekku.
Di rumah baruku inilah kisah itu bermula, saat itu adekku berumur dua tahun, segala keaktifan, kelincahan, dan keceriaannya menghiasi rumah kami. Tapi sayang, di suatu malam kecerobohan kami membuatnya kehilangan secerah kebahagiannya, di malam itu adek perempuanku asyik berlari dan bermain, hingga akhirnya ia terjatuh tepat di depanku, kekagetanku tak membuahkan reaksi untuk segera menolongnya, yang aku ingat ia terbanting dan kepala bagian belakangnya terbentur kuat di lantai. Ibuku pun dengan cepat memeluknya dan menggendongnya.
Aku sangat syok, bahkan ingatan pahit ini tak pernah bisa kuhapus meski aku selalu mencobanya. Sejak kejadian itu semua berjalan normal seperti biasa, tak ada efek yang aneh dari jatuhnya adek tersayangku. Tapi suatu hari ketika ia sedang duduk bersamaku, ia terjatuh lagi, dan posisi tempat ia jatuh cukup tinggi, aku khawatir dan segera menolongnya, tapi aku tak mendapatinya menangis ia malah tersenyum melihatku, aku sangat heran, tak normal anak seusianya tak menangis jatuh diposisi duduk setinggi ini.
 Segera kulaporkan kejadian ini ke ayah dan ibuku, semakin hari terlihat ada yang aneh dari adek mungilku, ia sering merapatkan kedua kakinya, dan menekan perutnya serta kepalanya menghadap ke atas. Ayah ibuku mulai khawatir, setiap mereka berusaha bertanya tapi tak kan ada reaksi, anak berumur 2 tahun sangat sulit untuk bisa menyatakan keluhannya. Aku sering menangis dalam diamku, semenjak itu kondisi dan suasana rumah selalu dalam suasana kesedihan dan kekhawatiran, tak jarang ibuku menggendong adekku dan selalu menanyainya sambil menangis.
Hingga akhirnya ayah mendapat saran untuk segera membawa adekku ke rumah sakit, menurut informasi ada satu rumah sakit yang cukup bagus fasilitas dan kualitasnya, tapi sayang rumah sakit itu terletak di kota seberang, bahkan sudah beda provinsi. Lebih sayangnya lagi rumah sakit itu adalah rumah sakit Kristen terbesar kala itu, Rumah Sakit Elisabeth itulah yang menjadi rujukan ayah saat itu, tapi kala itu kita masih sangat jauh dari kata paham akan dien ini, bahkan segala aturan islam pun kita tak mengenalnya, astagfirullah.
Hingga akhirnya ayah dan ibu berangkat membawa adekku ke rumah sakit itu, sejak itu adek harus  menjalani perobatan rutin, jika jadwal berobat itu tiba ayah akan menitipkanku ke tetangga untuk beberapa hari, bahkan minggu. Karena jika waktu berobat itu tiba ayah juga harus menetap disana.
Berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi gadis kecil yang cukup manja, didikan dan kasih sayang yang ayah berikan dengan porsi yang berlebihan membuahkan tingkahnya yang sangat membingungkan ayah ibuku. Segala yang ia inginkan harus terwujud, berapapun nominal uang yang ia sebutkan harus tersedia, ayah memang terlalu memanjakannya dengan alasan sakit yang adik miliki. Memang menyedihkan, benturan keras kepala adik kala itulah yang mempengaruhi kesehatannya, ada masalah dengan syaraf otaknya yang membuatnya seperti kejang jika ia mulai kambuh.
Hingga mudah saja bagi adikku mendapatkan yang ia inginkan, cukup dengan ia menangis dan sedikit mengamuk ayah atau ibuku akan segera bergerak mewujudkan keinginannya. Aku sempat protes akan hal ini, ayah membalas protesku dengan nada cukup mengiba “ di sisi lain ayah menyesal sangat memanjakannya, ayah khawatir esok segalanya menjadi bumerang untuk ayah, tapi ayah akan selalu berdoa semua akan baik-baik saja, dan adik akan mengerti tentang keadaan ini, adik berbeda kak, adik sakit, kelelahan saja adik tak bisa, berfikir terlalu berat adikpun tak bisa, pahami kak”,mendengar jawaban ayah akupun memberhentikan aksi protesku menangis dalam kesendirian, terbalut kekhawatiran terdalam jika mengingat adikku.
Akan tetapi kejutan itu hadir di tahun ini, membuahkan senyum kebahagiaan dari hadiah setiap bingkisan-bingkisan doa yang kami kirim. Di hari kelulusannya ibuku menawarkannya beragai tawaran SMA yang ada disekitar rumahku, ibu tak menyebutkan nama pesantren satupun, ibu khawatir ia menolak lagi, karena ia sempat masuk pesantren sekitar 2 bulan dan minta pindah dengan berbagai alasan. Akan tetapi jawabannya mengejutkan ayah ibuku, saat itu adikku menolak semua tawaran sekolah SMA yang ayah ibu tawarkan, dengan tegas ia meminta untuk masuk pesantren, “aku ingin menjadi yang terbaik untuk ayah dan ibu”  jawabnya sendu, membuat perih serta senyum yang mendalam dihati kami.
Ia melarang ibu untuk menyatakan kelemahannya, ia ingin normal seperti anak-anak yang lainnya, mengikuti segala aktifitas dan kegiatan pesantren yang telah disediakan. Ia tak ingin hanya berbaring-baring santai dan memanjakan dirinya, ia bahkan mentekadkan dirinya untuk tak menangis di hadapan orang tuaku, dan membuat mereka khawatir. Semoga niat baikmu ini membuahkan pahala dan motivasi tersendiri untuk mereka yang banyak memiliki kelebihan tetapi memendamnya di tanah-tanah kemalasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar